Laporan Fieldtrip Geomorfologi 2015 ( My Homework )



BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Bumi memiliki 2 lempeng/kerak yaitu kerak samudra (oceanic crust) dan kerak benua (continental crust). Bentuk bumi/roman muka bumi atau landscape beranekaragam. Misalnya pada kerak benua (continental crust) banyak di jumpai keanekaragaman roman muka bumi, baik itu gunung, perbukitan, pegunungan, sungai, dataran, dan lain sebagainya. Perubahan-perubahan roman muka bumi seperti ini dipengaruhi oleh adanya proses geomorfologi. Maksudnya adalah perubahan–perubahan fisik, kimia dan biologis yang mempengaruhi bentuk roman muka bumi. Penyebab proses ini disebut dengan Geomorphic Agent yang disebabkan oleh adanya proses endogen (asal dalam), Proses eksogen (asal luar) dan ada juga yang dipengaruhi dari luar bumi yang disebut ekstraterestrial. Proses Endogen ini berupa Epirogenesa yaitu proses pengangkatan yang membentuk suatu jalur pegunungan, Orogenesa yaitu proses pengangkatan dalam skala kecil dan vulkanisme yaitu akibat dari aktivitas magma. Proses Eksogen yaitu gaya asal dari luar yang mendorong terjadinya gradasi  (perubahan bentuk permukaan) berupa Degradasi (pelapukan , gerakan tanah/mass wasting, erosi) dan agradasi (deposisi/sedimentasi). Dan Proses Ekstraterstrial yang disebabkan oleh gaya dari luar bumi seperti jatuhan meteor
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keunikan dan keberagaman bentang alam yang tercipta dari proses geologi jutaan tahun silam. Oleh karena itu diadakannya kuliah lapangan atau (fieldtrip) dengan  3 lokasi pengamatan yang dituju, antara lain pada daerah  gumuk pasir parangkusumo, singkapan di Dusun Lenteng Satu Bantul, lalu yang terakhir Gua Gajah di Dusun Lemah Abang Bantul.


B.            Maksud dan Tujuan
1.             Untuk mengetahui berbagai fenomena–fenomena geologi yang ada pada lokasi pengamatan.
2.             Mampu mengenali berbagai gejala geologi apa saja yang ada pada lokasi pengamatan.
3.             Dapat menjelaskan proses–proses yang terjadi pada lokasi pengamatan.
4.             Mampu menginterpretasikan fenomena–fenomena geologi yang ada pada lokasi pengamatan.
C.           Letak dan Kesampaian Daerah
1.             Letak
Fieldtrip tersebut kami lakukan ditiga daerah yaitu :
a.              Bentang alam eolian yang berlokasi di Pantai Parangkusumo.
b.             Bentang alam struktural yang berlokasi di Dusun lentheng 1, Desa Selopamioro, Kecamatan Immogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi D. I. Yogyakarta.
c.              Bentang alam kars yang berlokasi di Goa Gajah, Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi D. I. Yogyakarta
2.             Kesampian Daerah
a.              Pada lokasi pengamatan pertama kami tempuh dari Kampus STTNas Yogyakarta sekitar 1 jam menggunakan bis angkutan umum. Dimana lokasi pengamatan pertama ini merupakan hamparan gurun pasir yang merupakan hasil dari tiupan angin yang material sedimennya bersumber dari gunung merapi. Pada lokasi ini kami melakukan perjalanan dengan kaki untuk melihat bentang alam eolian.
Lalu naik bis kembali menuju lokasi pengamatan kedua sekitar 35 menit
b.             Pada lokasi pengamatan kedua berada dipinggir jalan dan dipinggir perkebunan tebu milik masyarakat sekitar. Terlihat jelas dari pinggiran jalan bentang alam struktural di lokasi pengamatan kedua ini.
Lalu naik bis kembali menuju lokasi pengamatan ketiga sekitar 1 jam 30 menit
c.              Pada lokasi ketiga, lokasi pengamatan dibagi menjadi dua tempat, yang pertama lokasi pengamatan dilakukan didalam goa, dan yang kedua lokasi pengamatan dilakukan diatas bukit. Pengamatan di lokasi ini memperlihatkan bentang alam kars, baik proses eksogen maupun endogennya.

 
BAB II
DASAR TEORI

A.           Bentang Alam Fluvial
Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang erat hubungannya dengan proses fluviatil. Proses fluviatil adalah semua proses yang terjadi di alam, baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan. Di sini yang dominan adalah air yang mengalir secara terpadu/terkonsentrasi (sungai) dan air yang tidak terkonsentrasi (sheet water). Tetapi alur-alur ada di lereng bukit atau gunung dan terisi air bila terjadi hujan bukan termasuk bagian dari bentang alam fluviatil, karena alur-alur tersebut berisi air sesaat setelah terjadinya hujan (ephemeral stream).
Sebagaimana dengan proses geomorfik yang lain, proses fluviatil akan menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai tingkah laku air yang mengalir di permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan. Sungai merupakan aliran air yang dibatasi suatu alur yang mengalir ke tempat/lembah yang lebih rendah karena pengaruh gravitasi. Sungai termasuk sungai besar, sungai kecil maupun anak sungai.

1.             Macam-macam proses fluvial
Proses fluviatil dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu:
a.             Proses erosi
Menurut Sukmana, 1979, proses erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh pergerakan air atau angin. Sedangkan Arsyad, 1982, mendefinisikan proses erosi sebagai peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atu bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami.
Menurut Holy, (1980), berdasarkan agen penyebabnya, agen penyebab erosi dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu erosi oleh air, erosi oleh angin, erosi oleh gletser dan erosi oleh salju. Dalam bentang alam ini, agen penyebab erosi yang paling dominan adalah air. Sungai dapat mengerosi batuan sediment yang dilaluinya, memotong lembah, memperdalam dan memperlebar sungai dengan cara-cara :
a)             Quarrying, yaitu pendongkelan batu yang dilaluinya.
b)             Abrasi, yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilewatinya.
c)             Scouring, yaitu penggerusan dasar sungai akibat adanya ulakan sungai,misalnya pada daerah cut off slope.
d)            Korosi, yaitu terjadinya reaksi terhadap batuan yang dilaluinya.
e)             Hydraulic action, kemampuan air mengangkat dan memindahkan batuan atau material-material sediment dengan gerakan memutar sehingga batuan pecah dan kehilangan fragmen.
f)              Solution, solution dalam proses erosi berjalan lambat, tetapi
efektif dalam pelapukan dan erosi.

Berdasarkan arahnya, erosi dapat dibedakan menjadi :
a)             Erosi ke arah hulu (head ward erotion) adalah erosi yang terjadi pada ujung bagian hulu sungai.
b)             Erosi vertikal, erosi yang arahnya tegak dan cenderung terjadi pada daerah bagian hulu pada sungai dan menyebabkan terjadinya pendalaman lembah sungai
c)             Erosi lateral, yaitu erosi yang arahnya mendatar dan dominan terjadi pada daerah tengah sungai yang menyebabkan bertambah lebar dan panjang sungai.

Erosi yang berlangsung terus hingga suatu saat akan mencapai batas dimana air sungai sudah tidak lagi mampu mengerosi lagi (erotion base level). Erotion base level ini dapat dibagi menjadi ultimate base level yang base level-nya berupa laut dan temporary base level yang base level-nya lokal seperti danau, rawa, dll. Intensitas erosi pada suatu sungai berbanding lurus dengan kecepatan aliran sungai tersebut. Erosi akan lebih efektif bila media yang bersangkutan mengangkut bermacam-macam material. Erosi memiliki tujuan akhir meratakan sehingga mendekati ultimate base level.
b.             Sifat-sifat erosi
1.             Intensitasnya sebanding dengan aliran sungai.
2.             Makin banyak bercampur dengan material lain maka erosi makin efektif.
3.             Selalu menuju ke ultimate base level.
c.              Proses Transportasi
Proses transportasi adalah proses perpindahan/pengangkutan material yang diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya gravitasi. Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu :
a)             Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai.
b)             Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding di dasar sungai.
c)             Saltationi, yaitu material terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai.
d)            Suspension, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan bercampur dengan air sehingga menyebabkan air sungai menjadi keruh.
e)             Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan membentuk larutan kimia.
Dalam membahas transportasi sungai dikenal terminologi stream capacity yaitu jumlah beban maksimum yang mampu diangkut oleh aliran sungai, dan stream competence yaitu ukuran maksimum beban yang mampu diangkut oleh aliran sungai.
d.             Proses Sedimentasi
Proses Sedimentasi adalah proses pengendapan material karena aliran sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang di bawanya. Apabila tenaga angkut semakin berkurang, maka material yang berukuran besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan ringan. Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya pada bagian kelokan ini terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke arah hilir, energi semakin kecil, material yang diendapkan pun semakin halus.

2.             Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Erosi dan Sedimentasi
a.             Kecepatan Aliran Sungai
Kecepatan aliran sungai maksimal pada tengah alur sungai, bila
sungai membelok maka kecepatan maksimal ada paad daerah cut off slope (terjadi erosi) karena gaya sentrifugal. Pengendapan terjadi bila kecepatan sungai menurun atau bahkan hilang.
b.             Gradien/kemiringan lereng sungai
Bila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya curam ke dataran yang lebih rendah maka kecepatan air berkurang dan tiba-tiba hilang sehingga menyebabkan pengendapan pada dasar sungai. Bila kemudian ada lereng yang terjal lagi, kecepatan akan meningkat sehingga terjadi erosi yang menyebabkan pendalaman lembah.
c.              Bentuk alur sungai
Aliran air akan menggerus bagian tepi dan dasar sungai. Semakin besar gesekan yang terjadi maka air akan mengalir lebih lambat. Sungai yang dalam, sempit dan permukaan dasarnya tidak kasar, aliran airnya deras. Sungai yang lebar, dangkal dan permukaan dasarnya tidak kasar, atau sempit, dalam tetapi permukaan dasarnya kasar, aliran airnya lambat.
 d.             Discharge
Merupakan volume air yang keluar dari suatu sungai. Proses erosi dan transportasi terjadi karena besarnya kecepatan aliran sungai dan discharge.

3.             Pola Pengaliran (Drainage Pattern)
Bentuk-bentuk tubuh air disebut sebagai pengaliran (drainage) meliputi danau, laut, sungai, rawa dan sejenisnya. Melalui erosi dan penimbunan (deposisi) yang dilakukan oleh air yang mengalir secara terus menerus, maka dapat menyebabkan perubahan dan perkembangan dari tubuh air tersebut. Satu sungai atau lebih beserta anak sungai dan cabangnya dapat membentuk suatu pola atau sistem tertentu yang dikenal sebagai pola pengaliran (drainage pattern). Pola ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam variasi bergantung struktur batuan dan variasi lotologinya.
a.             Pola Pengaliran Rectangular
Pola pengaliran rectanguler adalah pola pengaliran di mana anak-anak sungainya membentuk sudut tegak lurus dengan sungai utamanya. Pola ini biasanya terdapat pada daerah patahan yang bersistem teratur.




Rektangular, pada kekar dan/atau sesar yang saling berpotongan tegaklurus.


b.             Pola Pengaliran Dendritik
Pola pengaliran dendritik adalah pola pengaliran berbentuk seperti pohon dan cabang-cabangnya yang berarah tidak beraturan. Pola ini berkembang pada batuan yang resistensinya seragam, lapisan sedimen mendatar,batuan beku massif, daerah lipatan, dan daerah metamorf yang kompleks.
c.              Pola Pengaliran Sejajar/Parallel
Pola pengaliran sejajar/parallel adalah pola pengaliran yang arah alirannya sejajar. Pola ini berkembang pada daerah yang lerengnya mempunyai kemiringan nyata, dan batuan-nya bertekstur halus.
d.             Pola Pengaliran Trellis
Pola pengaliran trellis adalah pola pengaliran yang berbentuk seperti daun dengan anak-anak sungai sejajar, sungai utamanya biasanya memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan. Pola ini banyak dijumpai pada daerah patahan.



Trellis terarah, pada homoklin landai, atau pada pesisir landai dengan gosong pantai (beach ridges).


Trellis terlengkungkan, pada lipatan menunjam.


Trellis patahan, pada sesar-sesar tidak begitu paralel dan bercabang.

Trellis patahan, pada sesar-sesar tidak begitu paralel dan bercabang
e.              Pola Pengaliran Radial
Pola pengaliran radial adalah pola pengaliran yang arah-arah pengalirannya menyebar ke segala arah dari uatu pusat. Umumnya berkembang pada daerah dengan struktur kubah stadia muda, pada kerucut gunungapi, dan pada bukit-bukit yang berbentuk kerucut.
f.              Pola Pengaliran Annular
Pola pengaliran annular adalah pola pengaliran di mana sungai atau anak sungainya mempunyai penyebaran yang melingkar, sering dijumpai pada daerah kubah berstadia dewasa.



Annular, pada kekar dan/atau sesar yang bertemu tidak pada sudut tegaklurus.
g.             Pola Pengaliran Multi Basinal
Pola pengaliran multi basinal disebut juga sink hole, adalah pola pengaliran yang tidak sempurna, kadang tampak kadang hilangyang disebut sebagai sungai bawah tanah, pola ini bekembang pada daerah karst atau batugamping.
h.             Pola Pengaliran Contorted
Pola pengaliran contorted adalah pola pengaliran yang arah alirannya berbalik dar arah semula, pola ini terdapat pada daerah patahan.

4.             Macam-macam Bentang Alam Fluviatil
Bentang alam fluviatil dapat dibedakan menjadi beberapa macam berdasar proses pembentukannya, antara lain:

a)             Sungai Teranyam (braided stream)

Gambar Braided Stream
Sungai teranyam terbentuk pada bagian hilir sungai yang
mempunyai kemiringan datar atau hampir datar. Pembentukannya
dikarenakan oleh erosi yang berlebihan pada daerah hulu sungai sehingga
terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan membentuk gosong tengah
(channel bar). Karena adanya gosong yang banyak dan berjajar (berderet),
maka alirannya memberikan kesan teranyam.
b)             Bar Deposit (endapan gosong)
Gambar Bar Deposit
Bar deposit adalah endapan sungai yang terdapat pada bagian tepi atau tengah alur sungai. Endapan pada tengah alur disebut sebagai gosong tengah
(channel bar) sedang endapan pada tepi disebut sebagai gosong tepi (point
bar).
c)             Tanggul Alam (natural levee)
Gambar Natural Levee
Tanggul alam adalah tanggul yang terbentuk secara alamiah, hasil pengendapan luapan banjir dan terdapat pada tepi sungai sebelah menyebelah. Material pembentuk tenggul alam berasal dari material hasil transportasi sungai saat banjir dan diendapkan di luar saluran sehingga membentuk tanggul-tanggul sepanjang aliran.
d)            Kipas Alluvial (alluvial fan)
Gambar Alluvial Fan
Kipas alluvial adalah bentang alam alluvial yang terbentuk oleh onggokan material lepas, berbentuk seperti kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan gawir. Biasanya tersusun oleh perselingan pasir dan
lempung unconsolidated sehingga merupakan lapisan penyimpan air yang cukup baik.
e)             Delta
Gambar Delta
Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir
setelah masuk pada daerah base level. Selanjutnya akan dibahas sendiri
pada bab bentang alam pantai dan delta.
5.             Genesa Pembentukan Lembah Sungai
Siklus lembah sungai dibagi menjadi tiga tingkatan (stadia) yaitu muda dewasa dan tua :
a)             Stadia Muda, dicirikan oleh :
-                 Biasanya di daerah hulu.
-                 Sungai sangat aktif, erosi berlangsung cepat.
-                 Erosi vertikal lebih kuat daripada erosi lateral.
-                 Lembah sungai mempunyai profil berbentuk V.
-                 Gradien sungai curam, terdapat jeram dan air terjun.
-                 Anak sungai sedikit dan kecil.
-                 Aliran sungai deras (energi pengangkutan besar).
-                 Bentuk sungai relatif lurus.

b)             Stadia Dewasa, ditandai oleh :
-                 Kecepatan aliran mulai berkurang.
-                 Gradien sungai sedang, tidak terdapat jeram dan air terjun.
-                 Mulai terbentuk dataran banjir dan tanggul alam.
-                 Erosi lateral (ke samping) lebih kuat dari erosi vertikal.
-                 Mulai terbentuk meander sungai.
-                 Pada tingkat ini sungai mencapai kedalaman paling besar

c)             Stadia Tua, ditandai oleh :
-                 Kecepatan aliran semakin berkurang.
-                 Lebih banyak sedimentasi daripada erosi.
-                 Berkembang di daerah hilir
-                 Banyak terbentuk sungai meander, danau tapal kuda dan tanggul alam.
-                 Terjadi pelebaran lembah walaupun sangat lembat

6.             Bentang Alam Fluviatil dan Peta Topografi
Pada peta topografi alur sungai tampak jelas oleh pola konturnya yang khas sepanjang alur sungai tersebut, yaitu ditandai oleh garis kontur yang meruncing ke arah hulu.
7.             Aplikasi
Daerah-daerah yang termasuk bentang alam fluviatil merupakan daerah yang sangat potensial bagi kebutuhan hidup manusia. Daerah sekitar aliran sungai merupakan daerah yang sangat potensial untuk penambangan material bahan bangunan seperti pasir dan batu kali, selain itu airnya sangat vital untuk digunakan sebagai air minum, irigasi dan sebagainya. Selain potensi sesumber, daerah aliran sungai juga dapat menjadi sumber potensi bencana sepeti banjir dan tanah longsor. Bagian-bagian sungai yang memungkinkan terjadinya proses sedimentasi adalah bagian sungai yang tingkat erosi lateralnya mulai berkurang dan intensitas pengendapannya bertambah karena berkurangnya energi transportasi, yaitu pada sungai dengan stadia dewasa-tua. Dalam penambangan material sungai harus mempertimbangkan beberapa aspek antara lain :
·                Dipilih lokasi yang mudah untuk pengangkutan.
·                Akumulasi bahan tambang yang relatif mudah diambil.
·                Tidak merusak lingkungan sekitar (misalnya pondasi jembatan)

B.            Bentang Alam Karst
Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Bentang alam atau morfologi karst terbentuk akibat proses karstifikasi dan proses pelarutan kimia yang diakibatkan oleh aliran permukaan. Karst yang baik harus mengandung potensi mineral kalsit sekitar70-90% hal ini dimaksudkan dengan kegiatan pelarutan yang ada. Suatu kawasan karst mempunyai karakteristik yang khas, baik wilayah permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst). Karst hanya dijumpai di tempat-tempat tertentu. Pada awalnya pengertian karst merujuk pada nama bentang alam “karst” ditimur kota Trieste, Slovenia. Karena kekhasannya istilah karst kemudian dipakai untuk menyebut semua kawasan batugamping yang telah mengalamisuatu proses kelarutan. Karst merupakan suatu wilayah batugamping yang ditandai oleh adanya cekungan, lereng terjal, tonjolan bukit berbatugamping tak beraturan, gua, mempunyai system aliran air bawah tanah.
Gambar gua
1.             Ciri – Ciri Karst
Penciri karst sangat beraneka ragam secara garis besar dilihat dari mayor dan minornya. Untuk minor bisa berupa lapis, karst split, parit karst, palung karst, speleothem dan fitokasrt. Untuk mayor bisa berupa surupan, uvale, polje, jendela karst, palung karst, gua, terowongan alam.

2.             Pembentukan Karst
Proses pembentukan karst melibatkan apa yang disebut sebagai “Karbon dioksida kebawah”. Hujan turun melalui atmosferdengan membawa karbon dioksida terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai ditanah, ia terperkolasi melalui tanah dan menggunakan lebih banyak karbon dioksida. Infiltrasi air secara terus-menerus secara alami membentuk retakan-retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang lama, dengan suplai karbon dioksida terus-menerus yang kaya air, lapisan karbonat mulai melarut.
Gambar lapisan karbonat

3.             Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan
a.             Kerucut karst
Bukit Kars yang berbentuk kerucut dan berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi/bintang (Bloom, 1979)
Gambar Bukit Kars
b.             Menara Karst
Bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yang lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial
Gambar menara karst
c.              Mogote
Bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (Flat)
Gambar Mogote
d.             Vaucluse
Gejala karst yang berbentuk lubang tempat keluarnya aliran air tanah
Gambar Vaucluse
e.              Turm Karst
Lingkungan karst yang berupa bukit-bukit kars (Kerucut kars) yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain.
Gambar Turm Karst
4.             Potensi Kawasan Karst
a.             Potensi Ekonomi
Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat manusia berusaha untuk bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan karst sudah lama dijadikan manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian, kawasan karst juga tempat untuk pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan guano (kotoran kelelawar), penyediaan air bersih, air irigasi dan perikanan, serta kepariwisataan.
Salah satu pemanfaatan yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan menggunakan bahan peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet). Pemanfaatan yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut.
b.             Potensi Sosial
Nilai sosial-budaya kawasan karst selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai spiritual/religius, estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara manusia dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan keyakinan masyarakat dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua. Hubungan antara manusia dan alam disekitarnya pada dasarnya akan memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana melestarikan alam dan dekat dengan Sang Penciptanya.

5.             Faktor yang mempengaruhi Bentang Alam Karst
a.             Faktor Fisik
Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi :
1)             Ketebalan batugamping, yang baik untuk perkembangan karst adalah batu gamping yang tebal, dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum habis terlarutkan. Namun yang paling baik adalah batuan yang masif, karena pada batugamping berlapis biasanya terdapat lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan, sehingga mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menembus seluruh lapisan.
2)             Porositas dan permeabilitas, berpengaruh dalam sirkulari air dalam batuan. Semakin besar porositas sirkulasi air akan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif.
3)             Intensitas struktur (kekar), zona kekar adlah zona lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan, proses pelarutan berlangsung intensif. Kekar yang baik untuk proses karstifikasi adalah kekar berpasangan (kekar gerus), karena kekar tsb berpasangan sehingga mempertinggi porositas dan permeabilitas. Namun apabila intensitas kekar sangat tinggi batuan akan mudah tererosi atau hancur sehingga proses karstifikasi terhambat.
b.             Faktor Kimiawi
1)             Kondisi kimia batuan, dalam pembentukan topografi kars diperlukan sedikitnya 60% kalsit dalam batuan dan yang paling baik diperlukan 90% kalsit.
2)             Kondisi kimia media pelarut, dalam proses karstifikasi media pelarutnya adalah air, kondisi kimia air ini sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi Kalsit sulit larut dalam air murni, tetapi mudah larut dalam air yang mengandung asam. Air hujan mengikat CO2 di udara dan dari tanah membentuk larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3). Larutan inilah yang sangat baik untuk melarutkan batugamping.
c.              Faktor Biologis
Aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dapat menghasilkan humus yang menutup batuan dasar, mengakibatkan kondisi anaerobic sehingga air permukaan masuk ke zona anaerobic, tekanan parsial CO2 akan meninggkat sehingga kemampuan melarutkannya juga meningkat.
d.             Faktor Iklim dan Lingkungan
Kondisi lingkungan yang mendukung adalah adanya lembah besar yang mengelilingi tempat yang tinggi yang terdiri dari batuan yang mudah larut (batugamping) yang terkekarkan intensif. Kondisi lingkungan di sekitar batugamping harus lebih rendah sehingga sirkulasi air berjalan dengan baik, sehingga proses karstifikasi berjalan dengan intensif.

6.             Berikut adalah wilayah karst di Indonesia :
·                Gunung Leuser (Aceh)
·                Perbukitan Bohorok (Sumut)
·                Payakumbuh (Sumbar)
·                Bukit Barisan, mencakup Baturaja (Kabupaten Ogan Kombering Ulu)
·                Sukabumi selatan (Jabar)
·                Gombong, Kebumen (Jawa Tengah)
·                Pegunungan Kapur Utara, mencakup daerah Kudus, Pati, Grobogan, Blora dan Rembang Jawa Tengah)
·                Pegunungan Kendeng, Jawa Timur
·                Pegunungan Sewu, yang membentang dari Kabupaten Bantul di barat hingga Kabupaten Tulungagung di timur.
·                Sistem perbukitan Blambangan, Jawa Timur
·                Perbukitan di bagian barat Pulau Flores, tempat lokasi banyak gua, salah satu di antaranya adalah Liang Bua (Nusa Temggara Timur, NTT)
·                Perbukitan karst Sumba (NTT)

C.           Bentang Alam Marine
Geomorfologi asal marin merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai. Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut. Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di daerah pantai. Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah pantai juga dipengaruhi oleh :
1.             Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2.             Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai tersebut.
3.             Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4.             Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme, pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5.             Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme yang ada di laut.
Di Indonesia, pantai yang ada pada umumnya dialih fungsikan sebagai tempat wisata yang notabene dapat membantu tingkat pendapatan suatu wilayah. Apabila masyarakat mengetahui bahwa garis pantai bisa mengalami perubahan, maka akan muncul pemikiran-pemikiran agar pantai tersebut tetap bisa dinikmati keindahannya meskipun sudah mengalami perubahan
1.             Pengertian Daerah Pantai
Berdasarkan tahap-tahap perkembangannya, karakteristik garis pantai dapat dibedakan menjadi beberapa pengertian, yaitu :
a.              Pantai(Shore)Shore adalah daerah peralihan antara permukaan air tertinggi dan terendah. Keterangan: a = permukaan air tertinggi b = permukaan air terendah c = shore (pantai).
b.             Garis Pantai (Shoreline) Shoreline adalah garis yang membatasi permukaan daratan dan permukaan air. Garis batas ini selalu berubah-ubah sesuai dengan permukaan air laut. Garis pantai tertinggi terjadi pada saat terjadi pasang naik setinggi-tingginya, sedangkan garis pantai terendah terjadi pada saat terjadi pasang surut serendah-rendahnya.
c.              Pantai Depan (Foreshore) Foreshore adalah daerah sempit yang terdapat pada pantai yang terletak di antara garis pasang naik tertinggi dengan garis pasang surut terendah.
d.             Pantai Belakang (Backshore) Backshore adalah bagian dari pantai yang terletak di antara pantai depan (foreshore) dengan garis batas laut tetap (coastline). Daerah ini hanya akan tergenang air apabila terjadi gelombang pasang yang besar. Dengan demikian daerah ini akan kering apabila tidak terjadi gelombang pasang yang intensitasnya besar. Bentang alam seperti ini biasanya terdapat pada daerah pantai yang terjal, misalnya di pantai selatan Pulau Jawa.
e.              Pesisir (Coast) dan Garis Pesisir (Coastline) Coast adalah daerah pantai yang tidak menentu dan cenderung meluas ke daratan. Sedangkan coastline adalah garis batas laut yang tetap dari pesisir. Daerah pesisir ini mempunyai kemiringan lereng yang landai dengan luas yang tidak begitu besar pada daerah tepi pantai yang sebagian besar merupakan daerah pantai terjal.

2.             Topografi Pantai
Erosi gelombang sangat mempengaruhi terjadinya garis pantai. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi gelombang, misalnya ukuran dan kekuatan gelombang, kemiringan lereng dan ketinggian garis pantainya, komposisi batuannya, kedalaman airnya, serta lamanya proses tersebut berlangsung. Apabila gelombang di laut dalam menghempas pantai yang curam, maka sebagian besar air akan membalik kembali ke laut dan mengerosi lereng kliff tersebut dan naik dari permukaan air yang dangkal.
a.              Kekuatan Gelombang Gelombang pasang yang menghempas pantai merupakan penyebab pengikisan gelombang secara langsung. Bekas-bekas pengikisan gelombang tersebut menyebabkan semakin besarnya kekuatan gelombang.
b.             Kenampakan Hasil Kerja Gelombang Seperti halnya tenaga pengikis yang lain, tenaga gelombang juga dapat menyebabkan pengendapan selain menyebabkan pengikisan, sehingga di satu sisi menebabkan kerusakan pantai dan di sisi yang lain akan menyebabkan berkembang atau terbentuknya garis pantai.
c.              Kenampakan Hasil Arus Litoral Arus litoral bekerja secara langsung pada permukaan tanah, terutama pada tanah atau batuan yang lunak dan tidak kompak akan menjadi tenaga pengikis yang sangat hebat. Hasil dari pengikisan ini akan diendapkan pada dasar air yang dalam dan hanya sebagian saja yang ikut terbawa oleh arus.

3.             Daur Perkembangan Garis Pantai
Daur Perkembangan Garis Pantai yang Tenggelam Daur perkembangan garis pantai yang tenggelam ini dapat dipengaruhi oleh erosi sungai. Gangguan yang terjadi di kulit bumi dan topografi di sekitar garis pantai dapat mengalami perkembangan besar. Hal ini tergantung dari keadaan batuannya, bentuk pantainya, kekuatan gelombang dan arus lautnya, serta tingkat perkembangan atau stadium pantainya.
Stadium atau tingkatan perkembangan garis pantai yang tenggelam itu sendiri dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a.              Stadium dini atau awal (initial stage) Pada tingkatan permulaan ini, keadaan garis pantai sangat tidak teratur. Teluk-teluknya dalam dan dipisahkan oleh daratan.
b.             Stadium muda (youthful stage) Keadaan pantai pada stadium ini sama tidak teraturnya dengan keadaan pantai pada stadium dini. Gelombang akan menjalar dari suatu tempat ke tempat lain di sepanjang garis pantainya dan mengikuti keadaan litologis atau struktur batuannya. Pada stadium muda awal (early youth) ditandai dengan terdapatnya pantai curam (cliff) yang sangat terjal, teras-teras gelombang yang sempit di kaki pantai cliff tersebut, serta endapan pasir. Sedangkan pada stadium muda akhir (late youth) ditandai dengan terdapatnya gisik yang makin mengecil ke arah pantai dan jenis endapan berada di tempat yang dalam airnya. Gejala lain dari stadium ini yaitu terbentuknya lagoon yang terbentuk di belakang dari ambang yang bersambungan dan gosong pasir. Lagoon atau launa atau tasik itu sendiri yaitu laut kecil yang umumnya terdapat di tepi pantai dan bentuknya memanjang di sepanjang pantai tersebut dan terpisah dari laut oleh daratan yang sempit.
c.              Stadium dewasa (mature stage). Pada stadium ini perkembangan pantai yang tenggelam dengan kenampakan topografinya yang khas sudah banyak yang hilang. Pulau kecil, semenanjung, ambang yang bersambung, dan sebagainya dapat hilang atau berpindah tempat karena pengaruh erosi gelombang. Selain itu pada stadium ini, pantai cliff akan mengalami pelapukan yang hebat karena pengaruh cuaca dan kemiringan lerengnya semakin landai. Demikian juga dengan ketinggian dinding pantai di sekitar teluk yang menjadi semakin rendah karena pengaruh angin dan sungai. Arus litoral pada stadium ini dapat menyapu hasil-hasil endapan pantai pada jarak yang sangat jauh.
d.             Stadium tua (old stage). Karena pengaruh waktu, perkembangan garis pantai akhirnay mencapai usia tua. Hal ini ditandai oleh semakin melemahnya tenaga erosi yang berasal dari daratan mendekati permukaan air laut, sehingga material yang dibawa oleh gelombang dan arus laut banyak diendapkan di sepanjang garis pantai tersebut. Bentang lahan di daerah ini kelihatan sangat landai sekali dan merupakan dataran pantai dengan sudut kemiringan lerengnya sangat rendah atau kecil.

4.             Proses Terbentuknya Pantai
Tenaga yang mempengaruhi proses pembentukan pantai, baik secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa macam, yaitu gelombang laut, arus litoral, pasang naik dan pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
a.              Gelombang Air Laut. Gelombang dapat terjadi dengan beberapa cara, misalnya longsoran tanah laut, batu yang jatuh dari pantai curam, perahu atau kapal yang sedang lewat, gempa bumi di dasar laut, dan lain sebagainya. Diantaranya adalah gelombang yang disebabkan oleh angin. Angin akan berhembus dengan kencang apabila terjadi ketidakseimbangan tekanan udara. Karena tekanan yang tidak sama di permukaan air itulah yang menyebabkan permukaan air berombak. Adanya gelombang ini sangat penting dalam perkembangan garis pantai.
b.             Arus Litoral. Selain gelombang air laut, arus litoral juga merupakan tenaga air yang sangat penting pengaruhnya dalam pembentuka garis pantai. Pengaruh arus litoral terhadap perkembangan garis pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan atau kekuatan angin, kekuatan gelombang laut, kedalaman air, dan bentuk pantainya. Apabila bentuk pantainya landai dan proses pengendapannya cukup besar, maka arus litoral mempunyai pengaruh yang sangat penting sebagai tenaga pengangkut. Pada daerah pantai yang tersusun dari batuan yang tidak kompak, proses erosi akan bekerja sangat intensif. Jika hasil pengendapan terangkut dari permukaan air yang dangkal menuju permukaan air yang lebih dalam, maka arus litoral merupakan tenaga yang sangat efektif dalam proses pengendapan di pantai.
c.              Pasang Naik dan Pasang Surut. Pengaruh pasang-surut yang terpenting terhadap pembentukan pantai adalah naik-turunnya permukaan air laut dan kekuatan gelombangnya. Apabila gelombang besar terjadi pada saat pasang naik akan merupakan tenaga perusak yang sangat hebat di pantai. Arus air yang ditimbulkan oleh pasang naik dan pasang surut akan bergerak melalui permukaan terbuka dan sempit serta merupakan tenaga pengangkut endapan daratan yang sangat intensif.
d.             Tenaga Es. Pengaruh tenaga es yang terpenting yaitu adanya pengkerutan es dan pemecahan atau pencairan es. Air yang berasal dari bawah akan naik dan mengisi celah-celah dan akhirnya akan membeku. Apabila terjadi perubahan iklim, maka es akan mencair sehingga permukaan airnya akan bertambah besar.
e.              Organisme. Jenis binatang laut yang sangat penting dalam proses pembentukan garis pantai beserta perubahannya salah satunya yaitu binatang karang. Binatang karang yang paling banyak membentuk batuan karang ialah golongan polyps. Polyps merupakan jenis binatang karang yang sangat kecil yang hidup dengan subur pada air laut yang memiliki kedalaman antara 35-45 meter. Jenis makhluk hidup lain yang berpengaruh pada perkembangan pantai ialah tumbuh-tumbuhan ganggang (algae). Ganggang merupakan jenis mikro flora yang dapat membantu pengendapan dari larutan yang mengandung kalsium karbonat menjadi endapan kapur.


D.           Bentang Alam Struktural
Bentang alam struktural adalah bentang alam yang pembentukannya dikontrol oleh struktur geologi daerah yang bersangkutan. Struktur geologi yang paling berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah struktur geologi sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu ada.
Struktur sekunder biasanya terbentuk oleh adanya proses endogen yang bekerja adalah proses tektonik. Proses ini mengakibatkan adanya pengangkatan, pengkekaran, patahan dan lipatan yang tercermin dalam bentuk topografi dan relief yang khas. Bentuk relief ini akan berubah akibat proses eksternal yang berlangsung kemudian. Macam-macam proses eksternal yang terjadi adalah pelapukan (dekomposisi dan disintergrasi), erosi (air, angin atau glasial) serta gerakan massa (longsoran, rayapan, aliran, rebahan atau jatuhan). Beberapa kenampakan pada peta topografi yang dapat digunakan dalam penafsiran bentang alam struktural adalah :
a.              Pola pengaliran. Variasi pola pengaliran biasanya dipengaruhi oleh variasi struktur geologi dan litologi pada daerah tersebut.
b.             Kelurusan-kelurusan (lineament) dari punggungan (ridge), puncak bukit, lembah, lereng dan lain-lain.
c.              Bentuk-bentuk bukit, lembah dll.
d.             Perubahan aliran sungai, misalnya secara tiba-tiba, kemungkinan dikontrol oleh struktur kekar, sesar atau lipatan.
Macam-macam Bentang Alam Struktural. Bentang alam struktural dapat dikelompokkan berdasarkan struktur yang mengontrolnya. Srijono (1984, dikutip Widagdo, 1984), menggambarkan klasifikasi bentang alam struktural berdasarkan struktur geologi pengontrolnya menjadi 3 kelompok utama, yaitu dataran, pegunungan lipatan dan pegunungan patahan. Pada dasarnya struktur geologi yang ada tersebut dapat ditafsirkan keberadaannya melalui pola ataupun sifat dari garis kontur pada peta topografi.

1.             Bentang alam dengan struktur mendatar (Lapisan Horisontal)
Menurut letaknya (elevasinya) dataran dapat dibagi menjadi 2,yaitu :
a.              Dataran rendah, adalah dataran yang memiliki elevasi antara 0-500 kaki dari muka air laut.
b.             Dataran tinggi(plateau/high plain), adalah dataran yang menempati elevasi lebih dari 500 kaki diatas muka air laut.
Kenampakan-kenampakan bentang alam pada kedua dataran tersebut hampir sama, hanya dibedakan pada reliefnya saja. Pada daerah berstadia muda terlihat datar dan dalam peta tampak pola kontur yang sangat jarang. Pada daerah yang berstadia tua, sering dijumpai dataran yang luas dan bukit-bukit sisa(monadnock), yang sering dijumpai mesa dan butte. Perbedaan mesa dengan butte adalah mesa mempunyai diameter(d) lebih besar dibandingkan dengan ketinggiannya(h). Sedangkan butte sebaliknya.(lihat gambar)
Pola penyaluran yang berkembang pada daerah yang berstruktur mendatar adalah dendritik. Hal ini dikontrol oleh adanya keseragaman resistensi batuan yang ada di permukaan.
Gambar Kenampakan mesa dan butte
2.             Bentang Alam dengan Struktur Miring
Hampir semua lapisan diendapkan dalam posisi yang mendatar. Sedimen yang mempunyai kemiringan asal diendapkan pada dasar pengendapan yang sudah miring, seperti pada lereng gunung api dan disekitar terumbu karang. Kemiringan lapisan sedimen yang demikian disebut kemiringan asal dengan sudut maksimum 350(Tjia, 1987).
Kebanyakan sedimen yang memperlihatkan kemiringan, disebabkan karena adanya proses geologi yang bekerja pada suatu daerah tersebut. Morfologi yang dihasilkan oleh proses tersebut akan memperlihatkan pola yang memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan. Berdasarkan besarnya sudut kemiringan dari kedua lerengnya, terutama yang searah dengan kemiringan lapisan batuannya, bentang alam ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a.              Cuesta. Pada cuesta sudut kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan. Sudut kelerengan kurang dari 450 (Thornbury, 1969, p.133), sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya kurang dari 200. Cuesta memiliki kelerengan fore slope yang lebih curam sedangkan back slopenya relatif landai pada arah sebaliknya sehingga terlihat tidak simetri.
b.             Hogback. Pada hogback, sudut antara kedua sisinya relatif sama, dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan sekitar 450(Thornbury, 1969, p.133). sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya lebih dari 200. Hogback memiliki kelerengan fore slope dan back slope yang hampir sama sehingga terlihat simetri.

3.             Bentang alam dengan Stuktur Lipatan
Lipatan terjadi karena adanya lapisan kulit bumi yang mengalami gaya kompresi (gaya tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian punggungan disebut dengan antiklin, sedangkan bagian lembah disebut sinklin. Unsur-unsur yang terdapat pada struktur ini dapat diketahui dengan menafsirkan kedudukan lapisan batuannya. Kedudukan lapisan batuan(dalam hal ini arah kemiringan lapisan batuan) pada peta topografi, akan berlawanan arah dengan bagian garis kontur.
Gambar Kenampakan beberapa bentang alam struktural
yang rapat (fore slope/antidip slope).
4.             Struktur antiklin dan sinklin
Pada prinsipnya penafsiran pada kedua struktur ini berdasarkan atas kenampakan fore slope/antidip slope dan back slope/dipslope yang terdapat secara berpasangan. Bila antidip slope saling berhadapan (infacing scarp), maka terbentuk lembah antiklin, sedangkan apabila yang saling berhadapan adalah back slope/dipslope, disebut lembah sinklin. Pola pengaliran yang dijumpai pada lembah antiklin biasanya adalah pola trellis.
a                                              b
Gambar Sketsa dan contoh pola garis kontur pada pegunungan lipatan (a) lembah antiklin, b).lembah sinklin.
5.             Struktur antiklin dan sinklin menunjam
Struktur ini merupakan kelanjutan atau perkembangan dari pegunungan lipatan satu arah (cuesta dan hogback) dan dua arah (sinklin dan antiklin). Bila tiga fore slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah antiklin menunjam. Sedangkan bila tiga back slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah sinklin menunjam.
Gambar Sketsa dan contoh pola garis kontur pada struktur sinklin dan antiklin menunjam.
6.             Struktur lipatan tertutup
·                Kubah
Bentang alam ini mempunyai ciri-ciri kenampakan sebagai berikut :
a.              Kedudukan lapisan miring ke arah luar (fore slope ke arah dalam).
b.             Mempunyai pola kontur tertutup.
c.              Pola penyaluran radier dan berupa bukit cembung pada stadia muda.
d.             Pada stadia dewasa berbentuk lembah kubah dengan pola penyaluran annular.
·                Cekungan
Bentang alam ini mempunyai kenampakan sebagai berikut :
a.              Kedudukan lapisan miring ke dalam (back slope ke arah dalam).
b.             Mempunyai pola kontur tertutup
c.              Pada stadia muda pola penyalurannya annular.
Gambar Sketsa dan contoh pola kontur pada struktur lipatan tertutup kubah/dome, cekungan/basin.
7.             Bentang Alam dengan Struktur Patahan
Patahan (sesar) terjadi akibat adanya gaya yang bekerja pada kulit bumi, sehingga mengakibatkan adanya pergeseran letak kedudukan lapisan batuan. Berdasarakan arah gerak relatifnya, sesar dibagi menjadi 5, yaitu :
a.              Sesar normal/ sesar turun (normal fault)
b.             Sesar naik( reverse fault)
c.              Sesar geser mendatar (strike-slip fault)
d.             Sesar diagonal (diagonal fault/ oblique-slip fault)
e.              Sesar rotasi (splintery fault/hinge fault)
Secara umum bentang alam yang dikontrol oleh struktur patahan sulit untuk menentukan jenis patahannya secara langsung. Untuk itu, dalam hal ini hanya akan diberikan ciri umum dari kenampakan morfologi bentang alam struktural patahan, yaitu :
a.              Beda tinggi yang menyolok pada daerah yang sempit.
b.             Mempunyai resistensi terhadap erosi yang sangat berbeda pada posisi/elevasi yang hampir sama.
c.              Adanya kenampakan dataran/depresi yang sempit memanjang.
d.             Dijumpai sistem gawir yang lurus(pola kontur yang lurus dan rapat).
e.              Adanya batas yang curam antara perbukitan/ pegunungan dengan dataran yang rendah.
f.              Adanya kelurusan sungai melalui zona patahan, dan membelok tiba-tiba dan menyimpang dari arah umum.
g.             Sering dijumpai(kelurusan) mata air pada bagian yang naik/terangkat.
h.             Pola penyaluran yang umum dijumpai berupa rectangular, trellis, concorted serta modifikasi ketiganya.
i.               Adanya penjajaran triangular facet pada gawir yang lurus.
Gambar Kenampakan triangular facets yang mengindikasikan adanya sesar.
E.            Bentang Alam Eolian
Bentang alam eolian merupakan bentang alam yang dibentuk karena aktivitas angin. Bentang alam ini banyak dijumpai pada daerah gurun pasir. Gurun pasir sendiri lebih diakibatkan adanya pengaruh iklim. Gurun pasir diartikan sebagai daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata kurang dari 26 cm/tahun. Gurun pasir tropik terletak pada daerah antara 350 LU sampai 350 LS, yaitu pada daerah yang mempunyai tekanan udara tinggi dengan udara sangat panas dan kering. Gurun pasir lintang rendah terdapat di tengah-tengah benua yang terletak jauh dari laut atau terlindung oleh gunung-gunung dari tiupan angin laut yang lembab sehingga udar yang melewati gunung dan sampai pada daerah tersebut adalah udara yang kering.
1.             Proses-Poses Oleh Angin
Angin meskipun bukan sebagai agen geomorfik yang sangat penting (topografi yang dibentuk oleh angin tidak banyak dijumpai), namun tetap tidak dapat diabaikan. Proses-proses yang disebabkan oleh angin meliputi erosi, transportasi dan deposisi.
a.             Erosi oleh angin
Erosi oleh angin dibedakan menjadi dua macam, yaitu deflasi dan abrasi/korasi. Deflasi adalah proses lepasnya tanah dan partikel-partikel kecil dari batuan yang diangkut dan dibawa oleh angin. Sedangkan abrasi merupakan proses penggerusan batuan dan permukaan lain oleh partikel-partikel yang terbawa oleh aliran angin.
b.             Transportasi oleh angin
Cara transportasi oleh angin pada dasarnya sama dengan transportasi oleh air yaitu secara melayang (suspension) dan menggeser di permukaan (traction). Secara umum partikel halus (debu) dibawa secara melayang dan yang berukuran pasir dibawa secara menggeser di permukaan (traction). Pengangkutan secara traction ini meliputi meloncat (saltation) dan menggelinding (rolling).
c.              Pengendapan oleh angin
Jika kekuatan angin yang membawa material berkurang atau jika turun hujan, maka material-material (pasir dan debu) tersebut akan diendapkan.
2.             Macam-Macam Bentang Alam Eolian
Dilihat dari proses pembentukannya, bentang alam eolian dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu bentang alam akibat proses erosi oleh angin dan bentang alam akibat prose pengendapan oleh angin.


a.             Bentang Alam Eolian Akibat Proses Erosi
Proses erosi oleh angin dibedakan menjadi 2, yaitu deflasi dan abrasi. Bentang alam yang disebabkan oleh proses erosi ini juga dibedakan menjadi 2 yaitu bentang alam hasil proses deflasi dan bentang alam hasil proses abrasi.
·                Bentang Alam Hasil Proses Deflasi.
Bentang alam hasil proses deflasi dibedakan menjadi 3 macam :
1.             Cekungan Deflasi (Deflationbasin)
Deflasi merupakan cekungan yang diakibatkan oleh angin pada daerah yang lunak dan tidak terkonsolidasi atau material-material yang tersemen jelek. Cekungan tersebut akibat material yang ada dipindahkan oleh angin ke tempat lain. Contoh cekungan ini terdapat di Gurun Gobi yang terbentuk karena batuan telah diurai oleh adanya pelapukan. Cekungan ini mempunyai ukuran antara 300 m sampai lebih dari 45 km panjangnya dan dari 15m sampai 150 m dalamnya.
Gambar Cekungan Deflasi
2.             Lag Gravel
Deflasi terhadap debu dan pasir yang ditinggalkan merupakan material yang kasar (gravel, bongkah dan fragmen yang besar), disebut lagstone. Akumulasi seperti itu dalam waktu yang lama bisa menjadi banyak dan menjadi lag gravel atau bahkan sebagai desert pavement, dimana sisa-sisa fragmennya berhubungan satu sama lain saling berdekatan.
Gambar Desert Pavement. Angin memindahkan material halus meninggalkan material kasar (gravel, bongkah & berangkal) membentuk lag deposit.
3.             Desertvarnish
Beberapa lagstone yang tipis, megkilat, berwarna hitam atau coklat dan permukaannya tertutup oleh oksida besi dikenal desert varnish.
Gambar Desert varnish di Australia.

b.             Bentang Alam Hasil Prose Abrasi
Bentang alam hasil proses abrasi atau korasi antara lain :
1.             Ventifact
Beberapa sisa batuan berukuran bongkah-berangkal yang dihasilkan oleh abrasi angin yang mengandung pasir akan membentuk einkanter (single edge) atau dreikanter (three edge). Einkanter terbentuk dari perpotongan antara pebble yang mempunyai kedudukan tetap dengan arah angin yang tetap/konstan. Dreikanter terbentuk dari perpotongan antara pebble yang posisinya overturned akibat pengrusakan pada bagian bawah dengan arah angin yang tetap atau dapat juga disebabkan oleh arah angin yang berganti-ganti terhadap pebble yang mempunyai kedudukan tetap, sehingga membentuk bidang permukaan yang banyak.





Gambar Macam-macam Ventifact.
2.             Polish
Polish ini terbentuk pada batuan yang mempunyai ukuran butir halus, digosok oleh angin yang mengandung pasir (sand blast) atau yang mengandung silt (silt blast)yang mempunyai kekuatan lemah, sehingga hasilnya akan lebih mengkilat, misalnya pada kwarsit akibat erosi secara abrasi akan lebih mengkilat.
3.             Grooves
Angin yang mengadung pasir dapat juga menggosok dan menyapu permukaan batuan membentuk suatu alur yang dikenal sebagai grooves. Pada daerah kering, alur yang demikian itu sangat jelas. Alur-alur tersebut memperlihatkan kenampakan yang sejajar dengan sisi sangat jelas.
4.             Sculpturing (Penghiasan)
Batu jamur (mushroom rock) yaitu batu yang tererosi oleh angin yang mengandung pasir sehingga bentuknya menyerupai jamur (mushroom).

Gambar Mushroom rock.
5.             Yardang
Pada batuan yang halus, abrasi oleh angin secara efektif memotong sepanjang alur rekahan membentuk bentukan sisa yang berdiri memanjang yang disebut yardang. Kehadiran rekahan-rekahan mempunyai pengaruh penting pada orientasi beberapa yardang. Material yang halus tertransport sedangkan lapisan yang resisten membentuk perlapisan dengan material lain yang kurang kompak.
Gambar Yardang
c.              Bentang Alam Hasil Pengendapan Angin
Jika kekuatan angin yang membawa material berkurang atau jika turun hujan, maka material-material yang terbawa oleh angin akan diendapkan. Bentang alam hasil proses pengendapan oleh angin ini dibedakan menjadi 2 yaitu : dune dan Loess.
1.             Dune
Dune adalah suatu timbunan pasir yang dapat bergerak atau berpindah, bentuknya tidak dipengaruhi oleh bentuk permukaan ataupun rintangan. Berdasarkan ukurannya, hasil proses pengendapan material pasir, yaitu ripples, dunes dan megadunes
-                 Ripples lebar berukuran 5 cm - 2m dan tinggi 0,1 – 5 cm
-                 Dunes lebar 3 – 600 m dan tinggi 0,1 – 15 m
-                 Megadunes lebar 300 – 3 km dan tinggi 20 – 400 m
Gambar wind ripples
ü   Transversal Dune
Transversal dune merupakan punggungan-punggungan pasir yang berbentuk memanjang tegak lurus dengan arah angin yang dominan. Bentuk ini tidak dipengaruhi oleh tumbuh-tumbuhan.
Gambar Transversal Dune
ü   Parabolic Dune
Parabolic dune merupakan dune yang berbentuk sekop/sendok atau berbentuk parabola. Bentuk ini dipengaruhi oleh adanya tumbuh-tumbuhan.
Gambar Parabolic Dunes
ü   Longitudinal Dune
Longitudinal dune merupakan punggungan-pungungan pasir yang terbentuk memanjang sejajar dengan arah angin yang dominan. Material pasir diangkut secara cepat oleh angin yang relatif tetap.
Gambar Longitudinal Dune.
Klasifikasi menurut Emmon’s (1960) bentuk-bentuk dune dapat bermacam-macam, tergantung pada banyaknya pertambahan pasir, pengendapan di tanah, tumbuh-tumbuhan yang menghalangi dan juga arah angin yang tetap. Berdasrkan hal-hal tersebut, maka tipe-tipe dune digolongkan menjadi :
1.             Lee dune (Sand Drift)
Lee dune/sand drift adalah dune yang berkembang memanjang, merupakan punggungan pasir yang sempit, berada di belakang batuan atau tumbuh-tumbuhan. Dune ini mempunyai kedudukan tetap, tetapi dengan adanya penambahan jumlah pasir yang banyak maka dapat juga menjadi jenis dune yang bergerak dari ujung sand drft.
Gambar Sand Drift
2.             Longitudinal dune
Longitudinal dune mempunyai arah memanjang searah dengan arah angin yang efektif dan dominan. Terbentuk karena angin tertahan oleh rumput atau pohon-pohon kecil. Kadang-kadang berbentuk seperti lereng dari suatu lembah.
Gambar Longitudinal dunes
 3.             Barchan
Barchan terbentuk pada daerah yang terbuka, tak dibatasi oleh topografi/tumbuh-tumbuhan dimana arah angin selalu tetap dan penambahan pasir terbatas dan berada di atas batuan dasar yang padat. Barchan ini berbentuk koma dengan lereng yang landai pada bagian luar, serta mempunyai puncak dan sayap.
Gambar Barchan
4.             Seif
Seif adalah longitudinal dune yang berbentuk barchan dengan salah satu lengannya jauh lebih panjang akibat kecepatan angin yang lebih kuat pada lengan yang panjang. Misalnya di Arabian Sword, seif berasosiasi dengan barchan dan berkebalikan antara barchan menjadi seif. Perubahan yang lain misalnya dari seif menjadi lee dune.
Gambar Seif Dune
5.             Transversaldune
Transversal dune terbentuk pada daerah dengan penambahan pasir yang banyak dan kering, angin bertiup secara tetap misalnya pada sepanjang pantai. Pasir yang banyak itu akan menjadi suatu timbunan pasir yang berupa punggungan atau deretan punggungan yang melintang terhadap arah angin.
6.             Complexdune
Complex dune terbentuk pada daerah dengan air berubah-ubah, pasir dan vegetasi agak banyak. Barchan, seif dan transversal dune yang berada setempat-tempat akan berkembang sehingga menjadi penuh dan akan terjadi saling overlap sehingga akan kehilangan bentuk-bentuk aslinya dan akan mempunyai lereng yang bermacan-macam. Keadaan ini disebut sebagai complex dune. Menurut Emmons (1960, dalam Thornbury, 1969), dune ini biasanya mempunyai ketinggian antara 6 – 20 m, tetapi beberapa dune dapat mencapai ketinggian beberapa puluh meter. Sedangkan kecepatan bergerak atau berpindahnya berbeda-beda tergantung pada kondisi daerahnya. Biasanya tidak lebih dari beberapa meter per tahun, tetapi ada juga yang sampai 30 m per tahun.
Gambar Complex Dune.
2.             Loess
Gambar Distribusi global deposito utama sedimen loess
Daerah yang luas tertutup material-material halus dan lepas disebut Loess. Beberapa endapan loess yang dijumpai di Cina barat mempunyai ketebalan sampai beberapa ratus meter. Sedangkan di tempat lain kebanyakan endapan loess tesebut hanya mencapai beberapa meter saja. Beberapa endapan loess menutupi daerah yang sangat subur. Penyelidikan secara mikroskopis memperlihatkan bahwa loess berkomposisi partikel-partikel angular dengan diameter kurang dari 0,5 mm terdiri dari kuarsa, feldspar, hornblende dan mika. Kebanyakan butiran-butiran tersebut dalam keadaan segar atau baru terkena pelapukan sedikit. Kenampakan itu menunjukkan bahwa loess tersebut merupakan hasil endapan dari debu dan lanau yang diangkut dan diendapkan oleh angin.





BAB III
HASIL DAN ANALISIS DATA

A.           Bentang Alam Eolian
Dari hasil fieldtrip dilapangan yang dilakukan pada hari minggu tanggal 31 Mei 2015 pukul 09.07 WIB, lokasi pengamatan pertama dipantai Parangkusumo. Plotinglokasi menggunakan GPS didapat titik koordinat : S : 08 00’ 52.07”E : 110 18’ 56.04”
1.             Aspek Morfometri
Morfometri ini mengacu pada perhitungan peta topografi.
a.              Beda tinggi                      : -
b.             Slope                                : ± 36°
c.              Panjang lembah                : ± 15 meter
d.             Lebar lembah                   : ± 10 meter

Gambar beda tinggi & panjang lembah
Gambar Slope
2.             Proses Eksogen
Proses yang dipengaruhi dari luar bumi.
a.              Tingkat pelapukan            : menengah
b.             Tingkat erosi                    : menengah
c.              Tingkat transportasi         : tinggi
d.             Tingkat sedimentasi         : -
e.              Arah angin                       : tenggara – barat laut

Gambar Proses eksogen
3.             Proses Endogen
Proses yang dipengaruhi dari dalam bumi.
a.              Vulkanik                          : -
b.             Tektonik                           : -
c.              Struktur                            : Ripple mark (bergelombang)
4.             Morfogenesa    :








 Jenis–jenis Gumuk Pasir yang berkembang di Gumuk Pasir Parangkusumo :

a.             Barchan
Barchan terbentuk pada daerah yang terbuka, tak dibatasi oleh topografi atau tumbuh-tumbuhan dimana arah angin selalu tetap dan penambahan pasir terbatas dan berada di atas batuan dasar yang padat. Barchan ini berbentuk koma, dengan lereng yang landai pada bagian luar, serta mempunyai puncak dan sayap.
Gambar Barchan

b.             Longitudinal Dune
Longitudinal dune merupakan punggungan-punggungan pasir yang berbentuk memanjang sejajar dengan arah angin yang dominan. Material pasir diangkut secara cepat oleh angin yang relatif tetap.
Gambar Longitudinal Dune

c.              Ripple Dune
Ripple dune merupakan struktur yang berada pada gumuk pasir menyerupai silang siur yang berbentuk memanjang searah arah angin yang dominan. Terbentuk akibat adanya material pasir halus yang terangkut oleh angin.

Gambar Ripple Dune

5.             Vegetasi            : berduri, mempunyai lapisan lilin (menghambat proses penguapan), daun lancip.

Gambar Suket Grinting Vegetasi
gambar vegetasi secara umum daerah lokasi pengamatan 1

B.            Bentang Alam Struktural
Dari hasil fieldtrip dilapangan yang dilakukan pada hari minggu tanggal 31 Mei 2015 pukul 10.55 WIB, lokasi pengamatan kedua diLanteng 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D. I. Yogyakarta. Lokasi pengamatan di pinggir jalan, ploting lokasi menggunakan GPS didapat titik koordinat : S 07º56’57.1’’ E 110º24’01.7’’
1.             Aspek Morfometri
Morfometri ini mengacu pada perhitungan peta topografi.
e.              Beda tinggi                      : ± 50 meter
f.              Slope                                : ± 68° (tersayat kuat)
g.             Panjang lembah                : ± 10 meter
h.             Lebar lembah                   : ± 25 meter
Gambar Beda tinggi & panjang lembah
2.             Proses Eksogen
Proses yang dipengaruhi dari luar bumi.
a.              Tingkat pelapukan            : menengah
b.             Tingkat erosi                    : rendah
c.              Tingkat transportasi         : rendah
d.             Tingkat sedimentasi         : menengah – rendah
3.             Proses Endogen
Proses yang dipengaruhi dari dalam bumi.
a.              Vulkanik                          : batuan hasil letusan gunung api,
Berupa batuan breksi piroklastik dan 
batuan tuff ukuran pasir.
b.             Tektonik                           : sesar mendatar steps fault dan sesar
  turun
c.              Vegetasi                           : pohon jati, pohon pisang, pohon tebu
4.             Stadia Sungai                           : tua ( berbatasan dengan bentang alam
  Fluvial )
5.             Morfogenesa                           
Pada lokasi pengamatan yang kedua ini kami menemukan singkapan batuan vulkanik berupa perlapisan batuan antara breksi piroklastik dengan batupasir tuffan, dimana lapisan yang paling dibawah adalah batupasir tuffan kemudian di bagian atas adalah breksi piroklastik. Dengan arah jurus dan kemiringan N 184 E/ 26
Gambar Bidang perlapisan batuan dan strike/dip

Pada singkapan batuan ini kami menjumpai kenampakan sebuah struktur yaitu sesar turun/normal (normal fault) yang ditandai dengan adanya perlapisan yang tidak singkron dan sesar mendatar yang ditandai dengan adanya sliken side (gores garis), sehingga dapat diindikasikan bahwa pada singakapan tersebut dikontrol oleh struktur atau termasuk ke dalam bentang alam struktural.

Gambar  Struktur Sesar Turun/Normal (Normal Fault)

Gambar sliken side (garis gores)
Gambar struktur loadcast
6.             Litologi                          : breksi gunung api dan batuan tuff  pasiran.

C.           Bentang Alam Karst
Dari hasil fieldtrip dilapangan yang dilakukan pada hari minggu tanggal 31 Mei 2015 pukul 13.50 WIB, lokasi pengamatan ketiga di Desa Mangunan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi D. I. Yogyakarta Ploting lokasi menggunakan GPS didapat titik koordinat : S : 07 56’ 41.40”  E : 110 26’ 24.60”
1.             Aspek Morfometri
Morfometri ini mengacu pada perhitungan peta topografi.
i.               Beda tinggi                      :  45 meter
j.               Slope                                : 40°
k.             Panjang lembah                :  300 meter
l.               Lebar lembah                   :  50 meter
2.             Proses Eksogen
Proses yang dipengaruhi dari luar bumi.
a.       Tingkat pelapukan       : tinggi
b.      Tingkat erosi               : tinggi
c.       Tingkat transportasi    : sedang – tinggi
d.      Tingkat sedimentasi    : sedang – tinggi 



Gambar proses eksokars

Gambar lapies pada permukaan batugamping lapuk

3.             Proses Endogen
Proses yang dipengaruhi dari dalam bumi.
a.              Vulkanik                          : -
b.             Tektonik                           : pengangkatan (uplift)
c.              Vegetasi                           : pohon jati

4.             Morfogenesa
Goa Gajah adalah sebuah goa alami yang namanya diambil dari adanya sebuah gumpalan batugamping yang berbentuk menyerupai gajah didalam goa. Goa ini merupakan goa horizontal dengan kedalaman sekitar 200 meter, akan tetapi untuk kedalaman yang sesungguhnya belum ada yang tau dikarenakan adanya tumpukan tanah di sebagaian goa sehingga jalan menjadi sempit untuk dilalui, kondisi alam goa ini masih cukup alami dengan adanya stalaktit dan stalakmit (speleotherms) yang masih alami dan bagus di sepanjang goa.


Gambar stalaktit dan tiang

Gambar tirai goa

Di goa gajah ini juga terdapat banyak kehidupan, contohnya binatang sejenis kelelawar yang hidup di dalam goa tersebut, sehingga banyak sekali kotoran-kotoran kelelawar sepanjang goa yang menutupi jalan dan stalakmit yang ada disana. Sehingga oleh warga sekitar banyak yang diambil untuk dibersihkan dan memanfaatkan kotoran kelelawar tersebut sebagai pupuk untuk tanaman mereka dikarenakan didalam kotoran kelelawar tersebut banyak terkandung fosfat yang dapat menyuburkan tanaman atau perkebunan warga.

Gambar kelelawar

Gambar kotoran kelelawar

Pada gua ini juga memiliki litologi berupa batugamping mengandung fosil Pelecypoda. Mempunyai arah strike/dip : N 750 E / 70.
Gambar hasil dari proses endokarst

5.             Tata guna lahan
daerah penelitian merupakan perkebunan dengan vegetasi yang menjadi ciri khas bentang alam karst yaitu pohon jati dan beberapa tumbuhan yang beradaptasi tumbuh di daerah karst.DiGoa Gajah ini oleh penduduk sekitar dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen sebagai bahan bangunan, dll.


 BAB IV
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Dari hasil fieldtrip pada hari minggu, tanggal 31 Mei 2015 dapat penulis simpulkan bahwa mempelajari ilmu tentang geomorfologi suatu wilayah/daerah sangat penting bagi seorang mahasiswa khususnya mahasiswa geologi. Karena roman muka bumi ini sangat relief bentuknya, dan ada berbagai macam bentang alam serta proses-proses yang mengakibatkan terbentuknya bentang alam yang ada di permukaan bumi ini yang menyusun, mengubah bahkan yang bersifat menghancurkan baik di luar maupun didalam bumi. Bentang alam tersebut yaitu antara lain :
1.             Lokasi Pengamatan pertama
Daerah penelitian pertama berlokasi di Parangkusumo, merupakan bentang alam Eolian dengan bentukan lahan gumuk pasir tipe gumuk pasir melintang (transverse dune) bentuk ripple. Dibentuk oleh material pasir pantai yang berasal dari gunung Merapi yang aktif menyuplai material pasir tersebut. Yang tertransportasi dengan media air melalui sungai opak, dan diendapkan dimuara / pantai, disinilah material tersebut akan kembali kepermukaan tanah karena adanya ombak. Dan akan dibangun oleh media angin yang (eksogen) yang menerbangkan material pasir tersebut dan terakumulasi di tempat dimana lokasi pengamatan dilakukan. Tata guna lahan di lokasi pengamatan merupakan cagar alam geologi gumuk pasir Parangkusumo dengan vegetasi yang tumbuh diantaranya pohon cemara, pandan dan suket grinting.
2.             Lokasi Pengamatan kedua
Daerah penelitian kedua berlokasi di dusun Lanteng 1, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi D. I. Yogyakarta. Bentang alam yang diteukan di lokasi pengamatan kedua ini berupa bentang alam Struktural yang tercermin dari pola kontur yang sangat rapat pada peta topografi. Pada daerah penelitian dijumpai struktur geologi berupa sesar turun dan sesar mendatar. Tata guna lahan daerah penelitian merupakan perkebunan dengan vegetasi yang tumbuh diantaranya pohon jati, pohon pisang dan pohon tebu. Terdapat sungai stadia dewasa – tua, dilihat dari peta topografi.
3.             Lokasi Pengamatan ketiga
Daerah penelitian ketiga berlokasi di dusun Lemahabang, Mangunan, Dlingo, merupakan bentang alam Karst dicirikan oleh litologinya berupa batugamping. Pada daerah tersebut terdapat bentukan lahan Eksokarst berupa perbukitan karst, dijumpainya bentukan sinkhole dan batugamping dengan struktur lapies. Dan bentukan lahan Endokarst berupa goa dengan beberapa ornament meliputi stalaktit, tirai goa dan tiang goa. Tata guna lahan daerah penelitian yaitu perkebunan dengan vegetasi yang menjadi ciri khas bentang alam karst yaitu pohon jati dan beberapa tumbuhan yang beradaptasi tumbuh di daerah karst.

B.            Saran
Semoga dengan adanya kegiatan fieldtrip geomorfologi ini untuk kedepannya bisa lebih di kembangkan lagi agar praktikan tidak hanya sekedar memahami materi/teorinya saja, tetapi juga bisa memahami pada saat praktik langsung dilapangan.

Comments

Popular posts from this blog

Pengusaha Yang sukses Di Bidang Peternakan ( my homework )

Resistans, kapasitans dan induktans

Penjelasan dan contoh penggunaan Tentang Efek-efek pada Layer Style di Photoshop